Anies Baswedan Selalu Menunjukan Kekonyolan Di Depan Publik

Anies Baswedan Selalu Menunjukan Kekonyolan Di Depan Publik

Baca Juga

arena berita

Arena Berita - Biasanya seorang calon pemimpin pasti akan menunjukkan kewibawaannya, kecerdasannya, dan kebaikannya. Karena mereka sadar, bahwa mereka akan menjadi panutan dan contoh bagi rakyatnya. Fenomena ini sudah lumrah terjadi ditengah-tengah masyarakat umum di Indonesia, apalagi menjelang pilkada selalu saja calon pemimpin ingin terlihat cerdas dan beribawa di depan rakyatnya.

Namun fenomena ini tidak berlaku bagi Anies Baswedan, beliau yang selalu merasa ‘original’ dan menganggap orang lain ‘plagiat’ hingga merasa dirinya selalu ditiru, membuat Anies menciptakan fenomena baru, yakni mempertunjukkan kebodohannya di depan masyarakat. Fenomena ini ada karena mungkin Anies tidak ingin dicap sebagai pribadi tukang tiru.

Lihat saja kemarin, Anies kembali mempertontonkan kebodohannya di depan publik yang mengatakan pasangan nomor dua Ahok-Djarot meniru Anies, lantaran karena Ahok-Djarot menggunakan peci. “Misalkan kemarin, pakai peci ditiru, ya Alhamdulillah, dan yang kami tawarkan dua, yaitu pengalaman dan pembaruan,” ujar Anies.

Saya tertawa mendengar pernyataan konyol mantan Mendikbud tersebut. Saya menyarankan Anies untuk kembali belajar sejarah dan indentitas bangsa, mengapa peci menjadi hal tak terpisahkan dari sosok pejabat. Bukankah Ahok-Djarot adalah pejabat, lantas dasar argumen apa yang mendasari Anies sanggup mengatakan orang lain meniru dirinya hanya karena menggunakan peci.

Sini saya kasih tahu pak Anies Baswedan yang cerdas, pintar, ganteng, baik. Peci itu identitas negara yang memiliki banyak nilai historis didalamnya. Peci mulai resmi digunakan sebagai simbol negara pada pemerintahan Bung Karno. Bung Karno menyatakan bahwa peci merupakan asli kepunyaan rakyat yang juga dipakai oleh pekerja-pekerja dari bangsa Melayu. Jika waktu itu mengambil blangkon sebagai simbol nasional, hal ini bisa menimbulkan politik pecah belah, karena blangkon berasal dari Jawa. Alasan lainnya adalah, jika para tokoh nasional berpakaian seperti Belanda, hal ini bisa menjauhkan dari kaum pribumi.

Nah, sudah tahukan pak Anies bahwasannya peci itu bukan program ataupun terobosan bapak? Makanya saya sempat kaget tadi, bapak mengatakan Ahok-Djarot meniru anda hanya masalah peci. Emang peci itu hasil ide bapak? Saya stress pak kalau bapak begini terus, atau jangan-jangan ini bagian strategi bapak untuk memenangkan Pilkada? Ingin terlihat bodoh dan konyol untuk mendapatkan simpati warga? Tapi sampai disini pak saya benar-benar prihatin melihat karakter bapak yang sekarang. Saya prihatin!

Pak bisa gak sehari aja anda tidak membuat saya tertawa, pleaseee! Saya ingin bertanya, pembaharuan yang seperti apa yang bapak tawarkan, dan pemgalaman apa yang bapak punya? Yang saya tahu bapak hanya memiliki pengalaman menjadi rektor setelah itu dipecat dari kursi Menteri lantaran tidak memiliki etos kerja yang baik. Pengalaman bapak setahu saya, hanya memberantakkan kurikulum dan bapak sangat lambat untuk melakukan gebrakan-gebrakan di dunia pendidikan. Tidak segesit Susi di Menteri Kelautan, atau tidak secerdas Sri Mulyani di Menteri Keuangan.

Pembaharuan dan pengalaman yang ditawarkan Anies Baswedan hanya sebuah kata-kata kosong. Sejatinya pembaharuan dan pengalaman itu hanya ada di dalam diri Ahok-DJarot. Mereka melakukan sesuatu yang berbeda dari yang sebelumnya, mereka tidak kroupsi, tidak nepotisme, apalagi kolusi. Itulah yang namanya pembaharuan. Dari yang buruk diubah menjadi tidak buruk.

Mungkin maksud Anies pembaharuan itu, dari yang baik diperbaharui menjadi buruk. Dari kepemimpinan yang baik (Ahok-Djarot) diubah menjadi kepemimpinan yang buruk (Anies-Sandi). Terlalu! Pun begitu, bicara pengalaman hanya ada didalam diri Pak Ahok-Djarot, karena mereka memiliki pengalaman dibidang birokrasi, dan tidak usah diragukan lagi. Sederet prestasi penghargaan yang diraih kota DKI, itu menjadi saksinya bahwa Ahok-Djarot memiliki pengalaman dan etos kerja yang memukau.

Jadi sangat aneh mendengar kalau Anies menuduh Ahok-DJarot meniru Anies-Sandi, setahu saya Anies dan Sandi lah yang justru meniru. Hanya menambahkan kata plus diakhir setiap program. KJP plus, KJS plus, yang terbaru Anies-Sandi meniru KJL, mungkin besok mereka akan membuat KJL plus. Walaupun pada akhirnya kita semua tahu, bahwa program Anies-Sandi masih terus mengambang walaupun sudah mencontek.

Related Posts

Anies Baswedan Selalu Menunjukan Kekonyolan Di Depan Publik
4/ 5
Oleh